Pages

Rabu, 19 Januari 2011

KETIKA SUDAH DUA BULAN


Abine Husna Asli Desa Plajan

Desa Plajan adalah desa tanah kelahiran Q, NUSAIBAH AL HUSNA ketika memasuki umur dua bulan, kelihatan senyumnya yang selalu menggoda kedua orangtuanya, lucunya saat ketawil2 tangannya (kata orang ) bibirnya gerak2 lucu kayak mau bicara, tapi ketika nangis ..... sedih deh ibuknya, buanter sui nangise,,,,, beh,,, tnan. rencananya akan di ajak ke Desa Plajan Jepara Ketika minimal umur 5 bulan, mbahnya di Plajan Jepara Udan kuangen Banget ma cucunya yang di Banyuwangi, kalo ingat Desa Plajan kangen sekali , ingat teman2, tetangga, pak Petinggi Marwoto yang baik,,,, semoga Desa Plajan Maju dalam membangun desa dan Karakter massyarakat yang baik, moral, idiologi, etika yang semuanya sesuai aturan agama dan negara, amiin.


DESA PLAJAN

Sabtu, 30 Oktober 2010

NUSAIBAH AL HUSNA




Disaat istriku hamil tua q merasa dengan sendirinya semakin sayang dan sangat kasihan sekali kelihatan beraaaat sekali bawa perutnya dia, eht malam itu hujan terus menerus lebat sekali qsedikitt kaget saat terbangun dari tidur kok gelap, tapi ada sebuah cahaya saat ku kucek kucek mataku oowwh senter hp istriku yang menyalakan karena listrik padam tiba tiba istriku bilang perutnya sakit, ku cuek ja q tidur lagi wong lampu tu mungkin ja bayinya lagi nendang2 seperti biasa, sesaat lagi dia bangunin aku minta di anter ke kamar mandi wahhh listrik masih padam hujan deres lagi, setelah sampai di kamar istriku merintih kesakitan katannya perutnya sakit dan dia bilang mengeluarkan cairan jangan2 bayi dah mau keluar lalu ku putuskan tuk berkemas berangkat ke bidan, lihat jam dulu ah, wah jam setengah 1 malam-malam gini listrik belom juga nyala hujan pun masih begitu deresnya gak terang2, tapi... cancut taliwondo...!!! q kelurkan peda cetol (honda c70) karena adanya, ku pake jas hujan ku setarter sepeda berangkat bersama istriku kebidan yang jauhn ya kurang lebih 3 km, diperjalanan hujan sangat2 deres sekali jalan kurang begitu jelas kelihatan sampe2 jeglongan kagak kelihatan rata digenangi air "jedok !" suara sepeda c70 melewati jeglongan wah bisa2 lom sampe bidan bayi keluar duluan nich di ntrok2 di jalan tapi q tidak kendor pikiran walau hujan deres, listrik padam, peteng dedet, angin, jalan jeglong2 gak kelihatan yang penting sampek bidan selamat, alhamdulillah akhirnya sampai rumah bidan namanya bu temy atau anaknya bu bidan sarengah (orang2 mengenalnya) dengan basah kuyub sebagian pakaian q ketok pintu dan di silahkan masuk oleh bu bidan kulihat jam (jam 1 malam), setelah di cek infonya istriku udah saatnya melahirkan dan udah buka 4 (orang jawa mengatakan) setelah tu kuputuskan pulang sebentar mengambil persiapan yang sempat lom di bawa dan istriku udah berbaring di ranjang bidan singkat cerita q dah dari rumah dan mendampingi lagi istriku yang mulai merintih kesakitan, q berusaha tuk selalu mengajak istriku tuk berdzikir selalu di dalam hati dan berusaha ikhlas seikhlasnya, dengan terus merintih dengan rasa sakitnya yang sesaat dirasakan dengan terus tambah sakit sampe hampir istriku tidak menerima rasa sakit itu tapi ku selalu berusaha bisikan harus ikhlas itu adalah ujian yang harus dirasakan oleh seorang ibu, singkat cerita lagi waktu subuh telah tiba istriku semakin mengerang kesakitan waktu itu mertuaku datang lalu kudigantikan ku keluar ambil wudlu lalu sholat subuh dalam do'aku kupanjatkan dengan sungguh2 agar istriku melahirkan dengan selamat, sehat, tak ada hal hal yang tidak diinginkan, setelah itu q jenguk lagi istriku keadaan udah jauh berubah, liang rahim udah buka semua (bidan bilang) akhirnya bidan putuskan aku tuk buat sandaran istriku berbaring (berbaring hampir duduk) ku dibelakangnya jadi sandaran punggungnya, dengan posisi itu istriku di suruh menguras tenaga sekuat2nya tuk menekan bayi dengan nafas dan berkali kali dia lakukan, kulihat nya kagak tega melihat dia seperti tu tarik nafas, tekan kuat2 teruuuuus sambil menahan rsa sakit kurang lebih setengah jam akhirnya istriku betul2 melahirkan seorang anak perempuan "Alhamdulillah" istriku terkulai lemah habis tenaga,kulihat hp ku jam setengah 6 pagi, setelah bayi di angkat dan di baringkan di atas dada istriku sambil menunggu ari2/batur (orang bilang begitu) kudekati sibayi ku kumandangkan adzan di telinganya saat itu juga air mataku menetes deras, terkesima, meratap2 entah mengapa....? Ya Alloh atas Kuasamu... seperti bukan nyata pagi itu kalo aku jadi seorang ayah dari seorang anak yang barisan lahir,,, Ya Alloh maha besar...
Setelah itu ku samperin henpon kulihat wah batrenya hampir habis, tapi gak masalah ku ketik pesan singkan yang isinya rasa bahagia dan syukur pada Alloh, kukirim sms kesemua teman2ku, lagi2 singkat cerita sekitar jam 10 pagi kulihat istriku udah agak sehat kuputuskan pamit pulang ohw iya lom bayar,,, ku temui bu bidan tuk regristrasi pembiayaan stelah tu pulang, sampai rumah saudara2 tetangga semua dah menunggu tidak ketinggalan keluarga yang di jepara langsung telpon ikut gembira dan penasaran palagi mak, ingin lihat langsung cucunya.
Alhamdulillahirobbil Alamiin Ya Alloh semoga ngkau jadika anak kami hambamu yang selalu ngkau kasihi, sayangi dan selalu ngkau ridloi. Ku beri nama "NUSAIBAH AL HUSNA". Kamis Wage 20 Dzulqo'dah 1431 H.

Selasa, 19 Oktober 2010

DESA PLAJAN


Taqimudin ki asli arek njeporo >
tapi saiki uripe nok banyuwangi > mulai ngidek lemahe banyuwangi tahun 2002 bulan agustus sampek saiki nyantol nyantol arek banyuwangi ..>
pulang kampung kiro2 setahun pisan ....
lam kenal semuanya dulor dulor plajan > pak petinggi marwoto kulo taqim ...salam

Senin, 18 Oktober 2010

KEJUJURAN


Syeikh Abdul Kadir semasa berusia 18 tahun meminta izin ibunya merantau ke Baghdad untuk menuntut ilmu agama. Ibunya tidak menghalang cita-cita murni Abdul Kadir meskipun keberatan melepaskan anaknya berjalan sendirian beratus-ratus batu. Sebelum pergi ibunya berpesan supaya jangan berkata bohong dalam apa jua keadaan. Ibunya membekalkan uang 40 dirham dan dijahit di dalam pakaian Abdul Kadir. Selepas itu ibunya melepaskan Abdul kadir pergi bersama-sama satu rombongan yang kebetulan hendak menuju ke Baghdad.

Dalam perjalanan, mereka telah diserang oleh 60 orang penyamun. Habis harta kafilah dirampas tetapi penyamun tidak mengusik Abdul Kadir kerana menyangka dia tidak mempunyai apa-apa. Salah seorang perompak bertanya Abdul Kadir apa yang dia ada. Abdul Kadir menerangkan dia ada wang 40 dirham di dalam pakaiannya. Penyamun itu hairan dan melaporkan kepada ketuanya. Pakaian Abdul Kadir dipotong dan didapati ada wang sebagaimana yang diberitahu.

Ketua penyamun bertanya kenapa Abdul Kadir berkata benar walaupun diketahui wangnya akan dirampas? Abdul Kadir menerangkan yang dia telah berjanji kepada ibunya supaya tidak bercakap bohong walau apa pun yang berlaku. Apabila mendengar dia bercakap begitu, ketua penyamun menangis dan menginsafi kesalahannya. Sedangkan Abdul Kadir yang kecil tidak mengingkari kata-kata ibunya betapa dia yang telah melanggar perintah Allah sepanjang hidupnya. Ketua penyamun bersumpah tidak akan merompak lagi. Dia bertaubat di hadapan Abdul Kadir diikuti oleh pengikut-pengikutnya.


Moral & Iktibar

Ilmu Agama perlu dituntut meskipun terpaksa berjalan jauh.
Kata-kata ibu menjadi pendorong dan perangsang dalam hidup.
Berkata benar adalah satu kekuatan yang boleh memberi keinsafan kepada orang lain.
Niat yang baik dan ikhlas mendapat keberkatan daripada Allah.

Rabu, 08 April 2009

Ku Pinang Engkau


Ku pinang Engkau....

 
Suatu saat, seorang akhwat bertanya kepada saya. Pertanyaannya sederhana,
akan tetapi tidak mudah bagi saya untuk dengan tepat menjawabnya. Saat
itu akhwat kita ini mengajukan pertanyaan retoris, pertanyaan yang
seolah-olah tidak membutuhkan jawaban, akan tetapi sekarang saya bisa merasakan
bahwa ada hal yang diam-diam menjadi masalah. Saya bisa merasakan, ada sesuatu
yang sedang berlangsung namun tidak banyak terungkap karena berbagai sebab.
Ketika itu, akhwat tersebut mengajukan pertanyaan yang pada intinya adalah:
“Apa yang menghalangi ikhwan-ikhwan itu meminang seorang akhwat? Mengapa
ikhwan banyak yang egois, hanya memikirkan dirinya sendiri?”
“Sesungguhnya,” kata akhwat tersebut, “banyak akhwat yang siap.”
Akhwat itu bertanya bukan untuk dirinya. Telah beberapa bulan ia menikah.
Ketika mempertanyakan masalah itu kepada saya, ia didampingi suaminya. Ia
bertanya untuk mewakili “suara hati” (barangkali demikian) akhwat-akhwat lain yang
belum menikah. Sementara usia semakin bertambah, ada kegelisahan dan kadangkadang
kekhawatiran kalau mereka justru dinikahkan oleh orangtuanya dengan lakilaki
yang tidak baik agamanya.
Pertanyaan akhwat itu serupa dengan pertanyaan Rasulullah al-ma’shum. Beliau
yang mulia pernah bertanya, “Apa yang menghalangi seorang mukmin untuk
mempersunting istri? Mudah-mudahan Allah mengaruniainya keturunan yang
memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.”
Apa yang menghalangi kita untuk menikah? Kenapa kita merasa berat untuk
meminang seorang akhwat secara baik-baik dengan mendatangi keluarganya?
Apa yang menyebabkan sebagian dari kita merasa terhalang langkahnya untuk
mempersunting seorang gadis muslimah yang baik-baik sebagai istri, sementara
keinginan ke arah sana seringkali sudah terlontarkan. Sementara kekhawatiran jatuh
kepada maksiat sudah mulai menguat. Sementara ketika “maksiat-maksiat kecil” (atau
yang kita anggap kecil) sempat berlangsung, ada kecemasan kalau-kalau
keterlambatan menikah membuat kita jatuh kepada maksiat yang lebih besar.
Saya teringat kepada burdah, syair karya Al-Bushiri. Di dalamnya ada beberapa
bait sindiran mengenai saya dan Anda:
Siapakah itu
yang sanggup kendalikan hawa nafsu
seperti kuda liar
yang dikekang temali kuat?
Jangan kau berangan
dengan maksiat nafsu dikalahkan
maksiat itu makanan
yang bikin nafsu buas dan kejam
Sungguh, hampir saja kaki kita tergelincir kepada maksiat-maksiat besar kalau
Allah tidak menyelamatkan kita. Dan kita bisa benar-benar memasukinya
(na’udzubillahi min dzalik tsumma na’udzubillahi min dzalik) kalau kita tidak segera
meniatkan untuk menjaga kesucian kemaluan kita dengan menikah. Awalnya
menumbuhkan niat yang sungguh-sungguh untuk suatu saat menghalalkan pandangan
mata dengan akad nikah yang sah. Mudah-mudahan Allah menolong kita dan tidak
mematikan kita dalam keadaan masih membujang.
Rasulullah Muhammad Saw. pernah mengingatkan:
“Orang meninggal di antara kalian yang berada dalam kehinaan adalah
bujangan.”

Rasulullah Saw. juga mengingatkan bahwa, “Sebagian besar penghuni neraka
adalah orang-orang bujangan.”
Seorang laki-laki yang membujang harus menanggung beban syahwat yang
sangat berat. Apalagi pada masa seperti sekarang ini ketika hampir segala hal
memanfaatkan gejolak syahwat untuk mencapai keinginan. Perusahaan-perusaan obat
memanfaatkan gambar-gambar wanita untuk menarik pembeli. Perusahaan-perusaan
rokok juga memanfaatkan gadis-gadis muda yang seronok untuk mempromosikan rokoknya
di stasiun-stasiun dengan merelakan diri mengambilkan sebatang rokok
sekaligus menyalakan apinya ke laki-laki yang sedang lengah ataupun sengaja
“melengahkan” diri. Saya pernah menyaksikan kejadian semacam ini di stasiun Tugu,
Yogyakarta sekitar bulan Juli tahun 1996 yang lalu.
masih banyak lagi penjelasan dalam hal ini tapi saya tidak bisa menuliskan secara detail, maaf bila ada yang tidak cocok bagi para pembaca.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Themes | Free Song Lyrics, Cara Instal Theme Blog